relevan.id http://relevan.id Literasi Kemandirian Sat, 25 Jan 2020 14:20:38 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=5.3.2 http://relevan.id/wp-content/uploads/2019/11/cropped-relevan3-32x32.png relevan.id http://relevan.id 32 32 Natuna dan Literasi Kemandirian http://relevan.id/natuna-dan-literasi-kemandirian/ http://relevan.id/natuna-dan-literasi-kemandirian/#respond Sat, 18 Jan 2020 10:32:45 +0000 http://relevan.id/?p=135 Seratus tahun yang lalu, seorang anak muda dengan tekun membagi pemikiran nya tentang semangat anti kolonialisme dan kemerdekaan melalui tulisan singkat di surat kabar selundupan. Saat itu Indonesia masih terjajah, dengan segala perjuangan dan momentumnya, 25 tahun kemudian Indonesia merdeka, sang pemuda menjadi wakil presidennya.

Ada lagi sang negarawan, melihat hasil Konferensi Meja Bundar tidak menguntungkan Indonesia (menjadi 16 negara bagian RIS) yang sangat berisiko terpecah belah dan kembali dijajah. Tercetus lah gagasan Mosi Integrasi untuk bersatu, akhirnya terbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Setelahnya, sang penggagas menjadi Perdana Menteri.

Anggap saja kita mengamini 5 frase bergandeng pada satu alinea pembukaan UUD, merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Maka artinya Indonesia didirikan untuk menuju kemakmuran, tentu dengan 4 syarat 4 frase sebelumya. Merdeka dan bersatu sudah tunai dilaksanakan oleh pendahulu kita untuk selalu kita jaga. Selanjutnya adalah kedaulatan.

Indonesia sejak merdeka sebetulnya sudah mendapatkan kedaulatan, hak mengatur rumah tangga nya sendiri, pertanyaan kritis nya, apakah Indonesia sudah berdaulat hari ini?


Kasus Natuna mengonfirmasi kedaulatan maritim kita masih lemah, mafia migas mengaminkan bahwa kedaulatan energi kita masih kacau.Kelaparan dan kemiskinan adalah sinyal bahwa kedaulatan pangan juga masih jauh diharapkan.

Kedaulatan atau sebutan lain otonom, keberdayaan, atau kemandirian adalah gagasan yang paling relevan hari ini untuk diperjuangkan. Melalui @relevan.id yang kemudian saya sebut Literasi Kemandirian, saya ingin mengajak kita semua untuk mulai peduli dengan isu ini, karena saya sangat yakin cepat atau lambat Indonesia akan berdaulat. Hanya saja untuk mencapai hal itu harus diikuti oleh daerah yang otonom, masyarakat yang berdaya, keluarga yang mandiri serta individu-individu yang independen.


Semoga kita menjadi pribadi independen yang sadar siapa kita, menjadi subjek aktif yang mengambil kontrol atas hidup kita sediri dan mampu secara mandiri menyelesaikan masalah yang kita punya. Sampai akhirnya bisa berkontribusi turut memandirikan keluarga, masyarakat, daerah dan negara

]]>
http://relevan.id/natuna-dan-literasi-kemandirian/feed/ 0
Punya Mobil Ga Punya Garasi http://relevan.id/punya-mobil-ga-punya-garasi/ http://relevan.id/punya-mobil-ga-punya-garasi/#respond Sat, 18 Jan 2020 10:30:57 +0000 http://relevan.id/?p=132 Jika saja kita hidup sendirian di tengah hutan, rasanya tidak perlu ada yang namanya kebijakan publik. Cari makan, bikin rumah, buang sampah semua kita atur sendiri. Tapi sebebas-bebas kita di hutan, tetap ada aturan yang mengikat, hukum rimba misalnya, yang lemah selalu kalah sama yang kuat.

Lalu bukan sesuatu yang aneh jika kita hidup di perkotaan bersama jutaan manusia yang lain, dimana setiap individu di ruang publik punya kepentingan nya masing-masing, yang kadang kepentingan itu saling beririsan bahkan bertentangan, pasti butuh penengah bernama kebijakan publik.

Menyambut baik kebijakan publik berupa Peraturan Daerah Kota Depok yang melarang mobil parkir di bahu jalan, sekalipun di depan rumahnya sendiri. Ancaman denda menanti bagi yang melanggar aturan yang akan diterapkan mulai dua tahun ke depan ini.

Harus diakui pemilik mobil punya kepentingan terhadap keamanan mobilnya lalu memilih parkir dengan segala alasannya, bisa lahan sempit, masuk gang atau garasi penuh dengan kendaraan lain, tapi disisi lain masyarakat atau pengguna jalan punya kepentingan agar bisa melewati jalan dengan lancar. Karena tidak jarang “mobil menginap” di tepi jalan menjadi biang kemacetan.

Sebetulnya itulah fungsi Government sebagai regulator yang mengatur semua kepentingan publik. Lalu apakah di Kota lain harus dibuatkan dengan aturan yang sama ? Jawabnya tergantung urgensi masalah di daerah masing-masing. Bisa jadi masalah nya udah parah banget, tapi bisa jadi biasa-biasa saja. Oleh karena itu setiap daerah harus benar-benar otonom, tahu persis apa masalah di daerahnya dan apa solusinya. Jangan sampai latah, ikut-ikutan bikin dan pada implementasi nya malah bukan memudahkan publik tapi merepotkan.

Dan tidak kalah penting untuk terus membenahi transportasi publik, kalo pemerintah sudah memfasilitasi dengan baik, kenapa repot-repot ngurus transportasi sendiri.

]]>
http://relevan.id/punya-mobil-ga-punya-garasi/feed/ 0
Perkara Lampu Motor http://relevan.id/perkara-lampu-motor/ http://relevan.id/perkara-lampu-motor/#respond Sat, 18 Jan 2020 10:29:38 +0000 http://relevan.id/?p=129 Kalo dipikir-pikir rasanya kewajiban menyalakan lampu motor di siang hari memang seperti hal yang sia-sia. Selain seperti tidak ada manfaatnya, menyalakan lampu cenderung termasuk pemborosan energi. Tapi sebelum penilaian itu menjadi final coba kita lihat secara kompherensif kenapa aturan ini diterapkan.

Setiap kebijakan atau aturan dibuat untuk melindungi kepentingan publik. Aturan tentang berkendara tentu dibuat untuk melindungi pengendara itu sendiri serta lingkungan sekitar kendaraan. Biasanya ada dua bentuk pendekatan atas proteksi yang diharapkan dari aturan berkendara. Satu, menghindari risiko kecelakaan. Dua, mengurangi dampak dari risiko kecelakaan itu jika benar-benar terjadi.

Kenapa kita diwajibkan untuk menggunakan helm, tentu hal ini dilakukan sebagai bentuk proteksi mengurangi dampak kecelakaan, jika kecelakaan terjadi, kepala pengendara diharapkan bisa tetap terlindung. Lalu dimana letak proteksi penyalaan lampu utama di siang hari?

Menyalakan lampu dilakukan guna menghindari risiko kecelakaan. Refleks saat mengemudi dari apa yang kita lihat, menentukan seberapa cepat respons kita saat melaju dalam kecepatan tertentu. Dengan menghidupkan lampu pada siang hari maka akan sangat membantu para pengendara melihat dari jauh sepeda motor yang datang dari arah depan dan terutama arah samping dan belakang melalui kaca spion.

Alasan ilmiahnya karena cahaya memiliki kecepatan 300 ribu kilometer per detik. Sedangkan kecepatan suara hanya 344 meter per detik. Saat menyalakan lampu walau terang hari, akan segera terlihat kendaraan lain melalui spion daripada membunyikan klakson.

Menyetujui aturan ini, tidak serta merta sepakat dengan fenomena setelahnya. Misal pabrikan motor yang baru akhirnya tidak memberi opsi off pada lampu utama. Padahal dibeberapa momen ini cukup mengganggu, secara sosial bisa dianggap tidak sopan, misalnya pada saat melewati kerumuan orang di gang sempit di malam hari dengan lampu utama yang menyala. Dan kebijakan pabrikan ini perlu dikaji.

Tidak perlu dipaksa, biar aturan dilaksanakan dengan penuh kesadaraan. Karena bagi orang-orang yang mandiri, mereka sangat sadar bahwa aturan dibuat untuk memberi proteksi bukan malah membebani.

]]>
http://relevan.id/perkara-lampu-motor/feed/ 0
Mempergauli Sang Predator http://relevan.id/mempergauli-sang-predator/ http://relevan.id/mempergauli-sang-predator/#respond Sat, 18 Jan 2020 10:27:37 +0000 http://relevan.id/?p=126 Publik dikejutkan dengan kasus Reynhard Sinaga seorang mahasiswa S3 di Inggris asal Indonesia yang memperkosa puluhan laki-laki. Kasus ini menjadi kasus pemerkosa terbesar di Inggris. Banyak media internasional yang menyebutnya “sang predator”.
.
Baru sore tadi di Instagram juga rame kasus Ekshibisionis di Palembang. Sebuah kelainan perilaku yang mempertontonkan alat kelamin ke publik.

Kasus-kasus ini mengonfirmasi bahwa ternyata predator seksual itu ada di sekitar kita.
.
Sebetulnya agak susah mencerna kata predator, akhir tahun kemaren predator disematkan pada Garaga, seekor King Cobra milik Panji Sang Penakluk.

King Cobra memangsa ular-ular lainnya, menjadikan King Cobra sebagai top predator.

Melihat hubungan Panji dan Garaga mengajarkan kita bagaimana bersikap dengan para predator. Panji memang manusia spesial yang punya kelebihan bisa dekat dan memahami sang predator, tapi bukan berarti Panji tidak pernah cidera. Panji selalu berpesan untuk jangan bermain-main dengan predator, jauhi saja karena sekalinya kita lengah kita dimangsa.

Lalu, kalo kamu bukan manusia spesial, jangan coba-coba mengganggu predator, apalagi predator seksual. Mari kita jaga lingkungan kita, lebih aware, semoga terhindar dari para predator.

]]>
http://relevan.id/mempergauli-sang-predator/feed/ 0
Banjir Durian http://relevan.id/banjir-durian/ http://relevan.id/banjir-durian/#respond Sat, 18 Jan 2020 10:24:25 +0000 http://relevan.id/?p=123 Bukan hanya banjir air, memasuki awal tahun, beberapa daerah di Sumatera mulai dibanjiri buah lokal, salah satunya durian

Sudut-sudut persimpangan jalan mulai di banjiri oleh pedagang durian dan tentu dengan harga yang lebih murah dibanding hari-hari biasanya.

Bagi pecinta durian, sesungguhnya ini adalah hal yang menggembirakan. Seperti berada di surga.

Hanya saja sebuah pertanyaan sederhana muncul, dari buah durian lezat yang kita makan hari ini, siapa yang menanam pohon nya?

Jawaban nya, bisa orang-orang tua, nenek-nenek atau buyut-buyut kita yang menanam. Butuh waktu 7-10 tahun bagi sepohon durian untuk bisa berbuah. Konon kabarnya pohon durian bisa berbuah dan bertahan hidup sampai 7 turunan manusia.

Belajar dari semangat generasi terdahulu, mereka menanam sesuatu untuk anak dan cucunya, yang mungkin mereka sendiri tidak pernah mencicipi apa yang mereka tanam.

Lalu, apa yang bisa kita tanam dan perbuat untuk anak cucu kita kelak?

Jangan-jangan hanya karena nafsu sesaat kita sibuk memikirkan diri sendiri.

Jangankan menanam, yang udah ada kita keruk habis, lalu mewariskan kerusakan-kerusakan nya untuk generasi selanjutnya.

]]>
http://relevan.id/banjir-durian/feed/ 0
Memutus Tradisi Jam Karet http://relevan.id/memutus-tradisi-jam-karet/ http://relevan.id/memutus-tradisi-jam-karet/#respond Sat, 18 Jan 2020 10:23:00 +0000 http://relevan.id/?p=120 Bukan rahasia umum, jam karet sering kita temui di kehidupan sehari-hari. Saat janji bertemu atau saat menghadiri sebuah acara rapat, di undangan jam berapa eh mulainya jam berapa

Saking seringnya terjadi, jam karet dianggap sebuah pembenaran. Tanpa sadar kita bikin rumus, oh kalo janji jam 10 berarti ketemu nya jam 11, atau kalo undangan jam 1 rapat mulai nya jam 2. Sebuah tradisi aneh yang terus subur membudaya.

Bukan tanpa sebab, seperti sebuah lingkaran pembenaran semua pihak membuat asumsi sendiri berdasarkan pengalaman masing-masing

misal acara rapat. Dari sudut pandang pimpinan rapat, ah nanti aja, pasti peserta rapat banyak terlambat. Dari sisi peserta juga demikian, ah bentar dulu, pimpinan nya juga sibuk biasa terlambat dan seterusnya.

Lingkaran pemikiran ini terus membumi, dan jalan satu-satunya ialah memutus lingkaran tersebut. Jadi siapa pun kamu on time adalah yang utama, walau kadang sering dikhianati namun setidaknya kamu tidak pernah mengkhianati diri sendiri

]]>
http://relevan.id/memutus-tradisi-jam-karet/feed/ 0
Menyambut Baik Tren Bersepeda http://relevan.id/menyambut-baik-tren-bersepeda/ http://relevan.id/menyambut-baik-tren-bersepeda/#respond Sat, 18 Jan 2020 10:20:54 +0000 http://relevan.id/?p=117 Satu tahun terakhir, aktivas bersepeda di Palembang semakin menunjukkan tren yang positif. Setidaknya terlihat dari dua indikator. Pertama, Semakin banyak komunitas sepeda yang berdiri dan aktif. Kedua, semakin banyak event-event yang dilaksanakan mengambil tema funbike.

Harusnya tren bersepeda ini bisa disambut baik oleh para stakeholder. Walau pun aktivitas sepeda sejauh ini masih sebatas rekreasi dan olahraga, yang baru dilakukan di weekend saja, dan belum banyak yang tergerak pada fase menjadikan sepeda sebagai alat transportasi utama penunjang aktivitas sehari-hari. Tetap ini menjadi kabar yang cukup menggembirakan.

Bersepeda terbukti meningkatkan kesehatan, mengurangi polusi udara, dan turut mengurai masalah kemacetan jalan raya. Sederhananya sepeda merupakan solusi dari banyak masalah saat ini, terlebih bagi masyarakat perkotaan.

Kota Palembang sebetulnya sangat memungkinkan menjadi kota sepeda. Secara Geografis Kota Palembang hanya memiliki luas 400 Km persegi, jarak terjauh Selatan-Utara hanya sekitar 20 KM saja. Palembang relatif datar, elevasi kota ini 0-10 mdpl. Banyak masyarakat yang bermukim di kampung-kampung tradisional yang aksesnya hanya jalan setapak. Palembang juga telah memiliki transportasi publik terintegrasi seperti LRT dan BRT, beberapa tipe sepeda bisa diangkut menggunakan fasilitas publik tersebut.
Kalo untuk kebutuhan olahraga di weekend, sebetulnya Komplek Jakabaring Sport City atau Gowes Keliling Kota sudah cukup memanjakan para goweser di Palembang. Hanya saja untuk memasyarakatkan sepeda agar sepeda bisa dijadikan alat trasnportasi penunjang aktivitas sehari-hari butuh keterlibatan banyak pihak.

Tidak harus aktivitas utama semacam Bike To Work atau Bike To School, sebetulnya hal-hal sederhana semacam bike to warung, bike to masjid, bike to minimarket, atau bike to pasar sudah cukup oke dijadikan pembiasaan di awal. Jalur sepeda khusus, rasanya belum terlalu urgent, masih bisa sharing road, lebih baik Pemkot mendorong penyediaan tempat parkir sepeda di fasilitas publik baik milik pemerintah atau swasta. Karena banyak orang ingin bersepeda, mengurungkan niatnya, takut hilang, hanya karena tidak ada tempat parkir yang aman.

]]>
http://relevan.id/menyambut-baik-tren-bersepeda/feed/ 0
Jaminan Kesehatan atau Menjamin Sehat http://relevan.id/jaminan-kesehatan-atau-menjamin-sehat/ http://relevan.id/jaminan-kesehatan-atau-menjamin-sehat/#respond Sat, 18 Jan 2020 10:19:10 +0000 http://relevan.id/?p=114 Kebijakan Pemkab Lahat untuk keluar dari Kepesertaan BPJS Kesehatan harus diakui sangat berani dan dinilai sangat populis. Langkah ini diambil tidak lain disebabkan karena kebijakan kenaikan tarif BPJS Kesehatan yang mulai berlaku awal tahun ini.

Kenaikan tarif ini dinilai membebani APBD, karena setidaknya Pemkab Lahat punya kewajiban menanggung iuaran hampir 200.000 peserta masyarakat golongan tidak mampu Penerima Bantuan Iuran (PBI). Setelah dilakukan perhitungan rasanya jauh lebih efektif, efisien dan ekonomis jika Sistem Jaminan Kesehatan dilakukan dengan pola Program Kesehatan Mandiri dimana masyarakat cukup menunjukkan KTP untuk berobat, lalu Fasilitas Kesehatan semacam Rumah Sakit akan melakukan klaim ke Pemkab untuk dibayar sesuai biaya pelayanannya.

Kebijakan ini seperti memberi angin segar di tengah belum optimalnya pelayanan kesehatan yang diberikan oleh BPJS Kesehatan. Bukan tidak mungkin akan diikuti oleh Pemerintah Daerah lainnya. Tapi belum tentu ada jaminan bahwa Sistem Jaminan Kesehatan yang dilaksanakan secara mandiri bisa dirasa lebih baik.

Pemerintah Daerah harus memperhatikan betul bagaimana program atau sistem itu dapat berjalan dengan baik, setidaknya untuk beberapa titik kritis berikut. Pertama, Sistem Kepesertaan, apakah yang dilayani semua masyarakat ber KTP atau masyarakat golongan tidak mampu saja?. Kedua, Sistem Pelayanan, Apakah peserta dapat dilayani disemua fasilitas kesehatan, atau di fasilitas kesehatan tertentu dengan metode penjenjangan? Ketiga, Klasifikasi Penyakit, Apakah semua penyakit bisa dilayani dan diklaim atau hanya penyakit tertentu? Setidaknya semua itu harus segera klir di awal agar tidak menjadi polemik di kemudian hari.

Sampai akhirnya apa pun sistem jaminan kesehatannya, semua dibangun untuk memberikan proteksi keuangan, seandainya risiko sakit itu terjadi dapat meringankan biaya pengobatan. Tapi tetap yang utama adalah membangun paradigma sehat, karena tanpa usaha menjaga kesehatan yang sungguh-sungguh, apapun sistem jaminan kesehatannya semua dirasa percuma. Karena biaya yang harus dikeluarkan untuk menyembuhkan orang sakit tetap lebih besar jika dibandingkan dengan biaya untuk menjaga orang tetap sehat.

]]>
http://relevan.id/jaminan-kesehatan-atau-menjamin-sehat/feed/ 0
Mengambil Jalan Tengah, Pendestrian Sudirman dan Ampera Skatepark http://relevan.id/mengambil-jalan-tengah-pendestrian-sudirman-dan-ampera-skatepark/ http://relevan.id/mengambil-jalan-tengah-pendestrian-sudirman-dan-ampera-skatepark/#respond Sat, 18 Jan 2020 10:17:25 +0000 http://relevan.id/?p=111 Sebagai salah satu olahraga ekstrim, jatuh atau cidera saat bermain skateboard sepertinya sudah biasa. Sakit sudah pasti, tapi lebih sakit lagi pas main skateboard dikejar-kejar sama Satpol PP lalu Skateboardnya diamankan. Sempat menyita perhatian publik beberapa waktu yang lalu sekelompok anak muda yang tengah bermain skateboard di Pendestrian Sudirman ditertibkan oleh satpol PP. Penertiban secara represif memang salah, tapi bermain olahraga ekstrim di Fasilitas Publik juga tidak bisa dibenarkan.

Sebetulnya harus di apresiasi bahwa Kota Palembang menjadi satu dari sedikit kota yang turut memperhatikan para pecinta skateboard, setidaknya dengan membangun Ampera Skate Park. Hanya saja membangun bukan sekedar membangun, memastikan bahwa fasilitas tersebut dapat digunakan secara berkelanjutan adalah tugas bersama.

Setelah diresmikan dan sempat rame awal tahun 2018, Ampera Skate Park kini sudah mulai ditinggalkan. Ada dua catatan besar. Pertama, Ampera Skate Park secara spesifikasi tidak memenuhi standar keamanan bermain, berisiko tinggi dan berbahaya. Kedua, adanya pemalakan oleh oknum membuat para skater merasa tidak nyaman. Ini membuat para skater harus mencari tempat bermain yang baru, Pendestrian Sudirman.

Sebetulnya bermain Skateboard di Pendestrian Sudirman bukan tidak boleh, apalagi kalo bisa menjadi bagian show di pendestrian setiap malam minggu, tentu akan menjadi atraksi dan daya tarik wisata yang luar biasa, hanya saja butuh space dan medium khusus tempat bermain skateboard, bukan di trotoar jalan yang berisiko menggangu dan merusak fasilitas publik.

Lalu bagaimana mengajak para pemain skateboard mau kembali ke Ampera Skate Park? Ampera Skate Park harus direnovasi dan dipastikan melibatkan komunitas skateboard, agar apa yang dikerjakan outputnya sesuai kebutuhan user skateboard itu sendiri, setidaknya di standar keamanannya. Kedua, pemerintah kota melalui Satpol PP hendaknya bisa memberikan rasa aman dengan patroli di wilayah skatepark agar betul bisa steril dari oknum pemalak.

Perlu diingat, di salah satu cabang Skatebord di Sea Games 2019, Indonesia meraih emas, mudah-mudahan skatepark yang berkualitas dan terjangkau, bisa menelurkan bibit juara.

]]>
http://relevan.id/mengambil-jalan-tengah-pendestrian-sudirman-dan-ampera-skatepark/feed/ 0