Harimau dan Manusia, Sekutu Sering Seteru

Jauh sebelum ramai di media negeri manusia yang kompak memberitakan seramnya harimau yang masuk ke pemukiman warga, sejatinya media sosial negeri harimau telah menempatkan headline serupa menjadi berita sehari-hari. Tagar semacam #manusiamasukhutan#manusiaburuharimau#manusiakulitiharimau#manusiarusakhutan selalu menjadi trending topik di medsos para harimau.

Manusia dan Harimau sejatinya telah hidup lama berdampingan, ratusan tahun. Menciptakan sebuah harmoni hidup yang sangat baik. Di Sumatera Selatan atau bahkan di Sumatera pada umumnya Harimau mendapat tempat spesial secara kultural di tengah-tengah masyarakat. Sebutan Puyang atau Nenek atau Orang Tua, bukan sembarang sebutan, harimau menjadi sosok yang dihormati dan disegani. Nilai ini telah lama dipegang walau pun semakin kesini semakin memudar.

Dua bulan terakhir setidaknya ada 7 serangan harimau kepada manusia di Sumatera Selatan, tersebar di wilayah Pagaralam, Lahat, dan Muara Enim, ya Sekitar Bukit Barisan. Menurut beberapa sumber serangan pertama kali dipicu oleh adanya aktivitas oknum manusia yang hendak menangkap anak harimau. Entah berhasil atau tidak, yang pasti setelah itu setidaknya tampak dua harimau turun dari perkebunan teh Gunung Dempo Pagaralam sambil meraung, menurut BKSDA jika harimau turun dengan tanda meraung ada dua kemungkinan, hendak kawin atau sedang mencari anaknya yang hilang.

Dugaan lain juga muncul di tengah masyarakat, kerusakan hutan ulah manusia menjadi pemicu kenapa akhirnya harimau turun ke pemukiman.

Belajar dari negeri yang pernah eksis 500 tahunan di tanah ini bernama Sriwijaya. Negeri Bahari yang mampu mengelola alam secara lestari untuk kepentingan bersama secara berkelanjutan meliputi pegunungan, rawa gambut, juga laut. Pembangunan taman Sriksetra yang termaktum dalam Prasasti Talang Tuwo adalah kebijakan infrastruktur ekologi yang harmoni pada alam beserta isinya. “Semoga yang ditanam disini….dapat digunakan untuk kebaikan semua makhluk”. Manusia dengan segala ketinggian ilmu dan peradabannya harusnya menjadi pemimpin alam, rahamatanlilalamin. Kalo belum bisa mendesign alam yang harmoni, Setidaknya kita harus bisa menjaga hutan (dan isinya) yan telah ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hai, ada yang perlu kita diskusikan lebih lanjut?
Powered by