Natuna dan Literasi Kemandirian

Seratus tahun yang lalu, seorang anak muda dengan tekun membagi pemikiran nya tentang semangat anti kolonialisme dan kemerdekaan melalui tulisan singkat di surat kabar selundupan. Saat itu Indonesia masih terjajah, dengan segala perjuangan dan momentumnya, 25 tahun kemudian Indonesia merdeka, sang pemuda menjadi wakil presidennya.

Ada lagi sang negarawan, melihat hasil Konferensi Meja Bundar tidak menguntungkan Indonesia (menjadi 16 negara bagian RIS) yang sangat berisiko terpecah belah dan kembali dijajah. Tercetus lah gagasan Mosi Integrasi untuk bersatu, akhirnya terbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Setelahnya, sang penggagas menjadi Perdana Menteri.

Anggap saja kita mengamini 5 frase bergandeng pada satu alinea pembukaan UUD, merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Maka artinya Indonesia didirikan untuk menuju kemakmuran, tentu dengan 4 syarat 4 frase sebelumya. Merdeka dan bersatu sudah tunai dilaksanakan oleh pendahulu kita untuk selalu kita jaga. Selanjutnya adalah kedaulatan.

Indonesia sejak merdeka sebetulnya sudah mendapatkan kedaulatan, hak mengatur rumah tangga nya sendiri, pertanyaan kritis nya, apakah Indonesia sudah berdaulat hari ini?


Kasus Natuna mengonfirmasi kedaulatan maritim kita masih lemah, mafia migas mengaminkan bahwa kedaulatan energi kita masih kacau.Kelaparan dan kemiskinan adalah sinyal bahwa kedaulatan pangan juga masih jauh diharapkan.

Kedaulatan atau sebutan lain otonom, keberdayaan, atau kemandirian adalah gagasan yang paling relevan hari ini untuk diperjuangkan. Melalui @relevan.id yang kemudian saya sebut Literasi Kemandirian, saya ingin mengajak kita semua untuk mulai peduli dengan isu ini, karena saya sangat yakin cepat atau lambat Indonesia akan berdaulat. Hanya saja untuk mencapai hal itu harus diikuti oleh daerah yang otonom, masyarakat yang berdaya, keluarga yang mandiri serta individu-individu yang independen.


Semoga kita menjadi pribadi independen yang sadar siapa kita, menjadi subjek aktif yang mengambil kontrol atas hidup kita sediri dan mampu secara mandiri menyelesaikan masalah yang kita punya. Sampai akhirnya bisa berkontribusi turut memandirikan keluarga, masyarakat, daerah dan negara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hai, ada yang perlu kita diskusikan lebih lanjut?
Powered by